| |
1 Alasan dan Motivasi
Carilah alasan sebanyak mungkin yang membuat anda merasa harus membuang kacamata anda. Lebih banyak daftar yang anda buat, semakin kuat motivasi anda untuk sembuh. Saya memberikan contoh : kacamata membuat saya 10 tahun lebih tua, membuat mata saya cekung dan pucat, penampilan saya jadi tidak menarik, dll. Buatlah daftar alasan sebanyak mungkin.
Saya akan menyampaikan pendapat pribadi saya tentang kacamata, yaitu : kacamata membuat penampilan saya tidak menarik, mata cekung dan pegal, muka pucat, kepala pusing, lingkaran sekitar kacamata berair, lembab. Siksaan ini bertambah manakala keringatan dan kepanasan, karena kacamata membuat kondisi ini semakin tidak nyaman. Silakan buat daftar alasan dan pendapat anda tentang kacamata. Tulis di kertas besar dan tempelkan di dinding yang mudah dibaca, anda akan ingat bagaimana kacamata telah menyiksa anda dan membuat anda mengalami ketergantungan
.
Carilah referensi sebanyak mungkin bagaimana kacamata membuat kerusakan mata semakin parah. Saya pernah bertemu teman yang putranya baru saja memakai kacamata. Saya bertanya kepada teman tersebut, putranya (-) berapa, ternyata baru (-) ½ . Saya sarankan kepadanya agar kacamatanya tidak dipakai terus-menerus. Dia menolak saran saya dengan alasan dokter mata menyuruh dipakai terus, agar kerusakannya tidak bertambah parah. Dapat dimaklumi bahwa dia lebih percaya dengan dokter mata daripada saya sebagai teman.
Setelah 3 tahun kemudian saya kembali bertemu dan saya melihat kacamata anak tersebut sudah menebal. Saya bertanya sudah minus berapa, teman saya menjawab (-) 3. Wow ... ukuran yang fantastis, dalam rentang waktu yang pendek kemampuan matanya untuk melihat berkurang drastis. Saya sarankan kepada teman tersebut agar sang putra mengurangi kebutuhan akan kacamata. Teman saya menjawab bahwa anaknya sudah tidak mampu lagi melihat benda-benda di dalam rumah, dia selalu menabrak benda-benda jika berjalan di dalam rumah jika tidak mengenakan kacamata. Saya hanya bisa membatin ... kasihan sang anak.
Pengalaman pribadi saya barangkali bisa anda jadikan referensi. Saya menjadi terdakwa pemakai kacamata sejak umur 12 tahun. Pada waktu itu kerusakan mata saya kanan (-) 2 dan kiri (-) 1,75. Tetapi entah mengapa dokter mata memaksakan kehendaknya dengan menyamakan kedua ukuran minus mata saya menjadi (-) 2 semua. Alasan yang dikemukakan pada waktu itu adalah, saya akan mengalami pusing jika ukuran minusnya tidak sama. Jika memang harus sama, mengapa bukan yang kanan yang diturunkan sehingga sama dengan yang kiri ??.
Orang tua saya tidak melakukan protes apapun, karena berharap dokter mata sudah melakukan tugasnya dengan baik. Beruntung ibu saya memberikan sugesti negatif tentang kacamata, yaitu kacamata membuat mata cekung, penampilan tidak menarik dan tidak menyuruh saya memakai kacamata sepanjang waktu. Saya hanya memakai kacamata jika diperlukan. Beberapa kali saya memeriksakan mata ke dokter dan ternyata ukuran minus saya tidak bertambah.
Adik saya baru memakai kacamata pada usianya yang ke 15 dan pertama kali memakai hanya ukuran (-) ½. Selang beberapa tahun kemudian kerusakan matanya mendahului saya. Setelah saya melakukan pengamatan dia adalah pemakai kacamata aktif dan bahkan memakai softlens. Kelemahan softlens adalah, kita tidak bisa mengatur kapan kita harus memakai dan kapan kita harus melepasnya. Untuk melihat objek dekat seharusnya tidak diperlukan kacamata atau softlens karena kacamata dibuat untuk melihat objek jauh.
Wawancara dengan beberapa teman semakin menambah wawasan saya bahwa : ukuran kerusakan mata tidak berpengaruh nyata dalam kemampuan mata untuk melihat. Saya bertemu dengan teman yang kerusakan matanya (-) 3, dia dengan penuh percaya diri bisa berjalan kemana-mana tanpa memakai kacamata. Dia bisa melakukan aktivitas di dalam rumah dan di luar rumah tanpa memakai kacamata. Bandingkan dengan anak teman saya yang kerusakan matanya sama tetapi sudah tidak mampu melihat barang-barang dalam rumah dan selalu menabrak benda-benda dalam rumah
.
Coba lakukan pengamatan terhadap teman-teman anda, dengan wawancara ringan, dan buatlah diskusi, misalnya memakai kacamata umur berapa, pertama kali memakai umur berapa, pemakai aktif atau pemakai pasif. Anda akan menemukan fakta bahwa teman anda yang berharap dengan memakai kacamata bisa sembuh kerusakan matanya akan mendapatkan kenyataan bahwa setiap kali mereka memeriksakan mataya ke dokter, ukuran kerusakan matanya semakin betambah.
Barangkali anda berpikir, pendapat saya di atas adalah pendapat pribadi, tetapi ternyata, beberapa ahli mata dunia yang telah melakukan terobosan baru dalam perawatan mata, membuat kesimpulan yang sama. Saya akan menyampaikan untuk anda.
Harry Benjamin N.D dalam bukunya ”Pengobatan Alamiah Untuk Pemakai Kacamata” menyampaikan bahwa pemakai kacamata harus menyadari bahwa, sekali memakai kacamata, seluruh proses penglihatan alamiah tersingkir dari sistemnya.
Lebih jauh lagi, juga dituliskan bahwa : Mata bukannya dibiarkan berakomodasi untuk objek dekat dan jauh, akomodasinya bahkan dibantu oleh kacamata secara tetap dan tidak dapat diubah, dengan akibat kondisi teregangnya otot, diperkuat oleh dipancangkannya mata pada suatu posisi kaku oleh kerja kacamata. Ini menerangkan mengapa ketergantungan terus menerus kepada kacamata seringkali cenderung memperlemah kemampuan mata.
DR. Robert Michael Kaplan dalam bukunya Seeing Without Glasses menyatakan pendapatnya tentang kacamata. Resep ukuran lensa pada umumnya menjadi lebih tinggi dengan berlalunya waktu, yang mengarah pada ketergantungan yang semakin lama semakin besar pada alat korektif (kacamata), yang sebenarnya penuh tipu muslihat seperti ketergantungan pada gula, obat atau alkohol.
No comments:
Post a Comment