|
|
Myopia sudah menjadi keresahan sejumlah ahli mata dunia terutama ahli mata anak karena mereka mendapatkan fakta bahwa kasus myopia mengalami peningkatan luar biasa setiap tahunnya. Kenaikan ini diduga karena berubahnya kebiasaan melihat akibat kemajuan teknologi. Televisi, komputer, Hp, game, turut memicu peningkatan pengguna kacamata.
Studi menunjukkan sekitar 30 % anak usia 6 dan 7 tahun di Singapura sendiri mulai memiliki masalah penglihatan. Di Australia sendiri, sekitar 20 % penduduknya berkacamata. Pembeda penting dari kebiasaan anak-anak di Singapura dan Australia adalah waktu yang mereka habiskan di udara terbuka. Anak-anak di Singapura rata-rata hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit di udara terbuka, sedangkan anak-anak di Australia berada di udara terbuka rata-rata 2 jam sehari.
Masa sekolah yang lebih dini dimana anak dipacu untuk bisa membaca dan menulis sejak awal, patut dicurigai sebagai penyebab peningkatan pengguna kacamata. Di samping itu kegiatan anak di luar rumah berkurang karena kebutuhan belajar dan kesibukan berinteraksi dengan teknologi.
Fakta bahwa berkurangnya aktivitas di luar rumah dan berganti dengan aktivitas di dalam rumah yang membutuhkan penglihatan dalam jarak dekat (komputer, televisi, game dan HP) turut membantu meledaknya populasi pengguna kacamata.
Faktor makanan dimana anak lebih banyak mengkonsumsi makanan siap saji, gula, lemak, dan kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung serat juga menjadi pemicu kenaikan pengguna kacamata.
Kacamata menjadi solusi paling cepat untuk mengatasi berkurangnya penglihatan. Pengguna kacamata mengikuti petunjuk dokter bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mengenakan kacamata. Beberapa dokter bahkan berani mengatakan, jika kacamata tidak dipakai akan menyebabkan kerusakan mata yang lebih parah.
Beberapa pengguna kacamata tidak menyadari bahwa setiap kali mereka memeriksakan mata ke dokter, ukuran kerusakan matanya menjadi lebih parah dan membutuhkan kacamata yang lebih tebal. Solusi untuk lensa kaca yang lebih tebal adalah softlens. Kebanyakan pengguna kacamata merasa sangat terbantu ketika mengenakan soflens karena dari segi estetika mereka merasa lebih nyaman dan lebih percaya diri. Jarang orang yang menyadari bahwa soflens justru akan memperparah kerusakan mata. Bukan cuma karena resiko kebersihan dan iritasi tetapi karena kemampuan akomodasi mata menjadi berkurang drastis, karena melepas soflens tidak semudah melepas kacamata.
Pengguna kacamata menelan mentah-mentah informasi yang diberikan oleh dokter mata atau optik, bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk memperbaiki kondisi kerusakan matanya. Beberapa informasi yang salah atau barangkali sengaja disalahkan juga sering disampaikan kepada anda bahwa kerusakan mata tersebut adalah faktor genetik, sehingga tidak ada lagi hal lain yang bisa mereka lakukan selain pasrah dengan vonis tersebut dan menurut saja memakai kacamata. Beberapa fakta berikut ini bisa mementahkan argumen bahwa kerusakan mata adalah faktor genetik.
Penelitian dilakukan oleh Profesor Young pada tahun 1968 pada sekelompok orang eskimo yang hidup di kutub utara. Anak-anak mereka adalah generasi pertama yang belajar membaca. Ini merupakan contoh yang sangat baik untuk menguji apakah faktor genetika berperan di sini.
Apa yang ditemukan oleh Profesor Young sungguh mengejutkan. Dari 130 orang tua, 128 di antaranya memiliki penglihatan jarak jauh yang sempurna, 1 orang memiliki 0,25 dioptri dan satu orang yang menjadi petugas pencatat kejadian memiliki 1,50 dioptri. Anak-anak mereka yang memulai belajar membaca tulis 60 % lebih memiliki myopia yang tampak nyata. Jelas Faktor genetika menjadi mentah dengan adanya kejadian ini.
Profesor Young menyimpulkan bahwa waktu lama yang dihabiskan untuk membaca adalah alasan mengapa anak-anak mereka menderita myopia.
Studi statistik juga dilakukan oleh pemerintah Amerika yang mendata bahwa pada tahun 1950 pemerintah AS menemukan kasus Myopia di AS mencapai 15 %. Menurut laporan sebelumnya sejak tahun 1920, level ini cukup konstan.
Pada tahun 1980, persentasi kasus myopia melonjak menjadi 40 %. Hereditas tidak bisa menjadi alasan peningkatan tiba-tiba karena karakteristik pewarisan sifat membutuhkan waktu berabad-abad untuk menjadi dominan dalam populasi yang besar. Profesor Young menduga, faktor yang berperan dalam kasus ini adalah dikenalkannya televisi sehingga berjuta-juta orang menghabiskan banyak waktu untuk memfokus objek dekat.
Jika sudah diketahui kacamata tidak menyembuhkan mata dan justru memperparah kerusakan mata, barangkali yang terlintas di dalam pikiran anda adalah : mengapa tidak diberikan terapi untuk memperbaiki kerusakan mata. Mengapa dokter atau optik memberikan resep untuk kacamata ? jawabannya tentu saja adalah ” UANG”.
Sadarkah anda, jika anda adalah mesin uang bagi mereka ? jika anda memakai kacamata terus menerus, setiap beberapa tahun, anda akan berganti kacamata dan itu akan menguntungkan bagi mereka. Mengapa mereka tidak menawarkan terapi lain ? jawabannya tentu saja adalah uang. Mereka akan kehilangan pendapatan jika anda mencoba terapi lain.
Jika uang bukan menjadi masalah bagi anda, pikirkan masalah lain yang akan muncul selama anda memakai kacamata. Kepala pusing, migrain, perasaan tidak enak di lingkar mata dan telinga adalah keluhan yang disampaikan ke penulis via FB. Ada juga yang menuliskan masalah estetika, yaitu merasa penampilannya menjadi tidak menarik setelah memakai kacamata.
Beberapa pemakai mengeluh pusing bahkan migrain. Hampir semua responden tidak mengeluhkan kenaikan kerusakan mata akibat pemakaian kacamata. Barangkali mereka menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang wajar jika mereka sudah memakai kacamata. Tidak diragukan lagi bahwa sugesti itu sengaja ditanamkan agar mereka tidak mengeluh tentang kenaikan kerusakan mata setelah beberapa waktu memakai kacamata.
Beberapa responden yang bertindak sebaliknya, yaitu tidak memakai kacamata meskipun disarankan oleh dokter mata atau optik untuk memakai mengaku tidak mengalami kenaikan penambahan minus. Bahkan ada responden yang mengaku minusnya tiba-tiba hilang setelah 6 bulan tidak memakai kacamata (semula -1/2). Karena kacamatanya hilang, dia tidak memakai kacamata selama 6 bulan. Setelah 6 bulan dia memeriksakan mata ke dokter, dia terperanjat karena matanya kembali normal.
Pengguna kacamata seharusnya menyadari bahwa kacamata hanya bersifat membantu penglihatan dan tidak menyembuhkan penglihatan. Bahkan faktanya kacamata justru memperparah kerusakan mata. Hal ini dibuktikan dengan kerusakan mata yang bersifat progresif justru terjadi ketika mereka menuruti anjuran dokter untuk selalu mengenakan kacamata.
Pertanyaan berikut ini menjadi renungan kita bersama . Jika kacamata tidak bisa menyembuhkan penglihatan, apakah kita bersedia memakainya terus menerus dengan menerima resiko bahwa kerusakan mata kita akan semakin parah ?. Jawabannya tentu saja tidak.
Jika anda masih berkutat pada perawatan mata tradisional yaitu mengenakan kacamata, maka yakinlah bahwa tidak ada lagi yang bisa anda lakukan selain mengganti kacamata dengan lensa yang lebih tebal, setiap kali anda memeriksakan mata ke dokter. Tetapi jika anda mencoba terapi lain, maka yakinlah bahwa mata anda akan mengalami penyembuhan secara alami.
Memulai langkah untuk membantu penyembuhan mata secara alami tentu saja jauh lebih baik daripada sekedar menuruti anjuran dokter untuk selalu memakai kacamata. Anda diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan. Anda ingin kembali mendapatkan penglihatan alami atau penglihatan anda harus dibantu oleh kacamata yang semakin tebal setiap tahunnya.
Tentukan langkah anda sekarang juga. Jika anda ingin kembali mendapatkan penglihatan alami, silakan membaca bab demi bab buku ini, dan anda akan segera dapat membuang kacamata anda. Tetapi jika anda masih terpaku pada anjuran dokter silakan buang saja buku ini.
No comments:
Post a Comment